Sintesis antara pemikiran Syeikh Imran Hosein (Dzulqarnain) dan Alexander Dugin (Katekhon) memandang konflik geopolitik modern sebagai pertarungan peradaban yang bersifat eskatologis. Dalam tafsir Imran Hosein, Dzulqarnain adalah figur Qur’ani yang membangun “tembok” untuk melindungi umat dari ancaman Ya’juj dan Ma’juj, yang dimaknai ulang sebagai simbol pertahanan spiritual, moral, dan geopolitik terhadap hegemoni Barat modern yang sekular-materialistik.
Sementara itu, dalam tradisi Kristen Ortodoks Rusia dan pemikiran Eurasianisme, Katekhon dipahami sebagai kekuatan “penahan” yang mencegah dominasi total kekacauan akhir zaman (Antikristus). Dugin mengaitkan peran ini dengan Rusia dan blok Eurasia sebagai penyeimbang terhadap tatanan dunia unipolar Barat yang liberal-globalis.
Keduanya bertemu pada gagasan bahwa peradaban Barat modern merupakan ancaman struktural terhadap tradisi, kedaulatan, dan identitas peradaban lain, sehingga diperlukan suatu “tembok” peradaban—baik fisik, ideologis, maupun institusional—untuk menahannya. Dalam sintesis ini, Dzulqarnain dan Katekhon dipahami sebagai dua ekspresi lintas agama dari prinsip yang sama: kekuatan penahan terhadap dominasi global homogen yang dianggap merusak tatanan moral dan kultural.
BRICS kemudian ditafsirkan secara simbolik sebagai manifestasi praktis dari “tembok” tersebut. Aliansi ini tidak hanya dipandang sebagai blok ekonomi, tetapi sebagai proyek geopolitik multipolar yang berupaya:
Menantang unipolaritas Barat,
Mengurangi ketergantungan pada sistem finansial Barat,
Memperkuat kedaulatan negara dan pluralitas peradaban.
Dalam kerangka ini, isu Zionisme dan globalisme Barat diposisikan sebagai bagian dari struktur hegemoni yang ingin dilawan melalui dunia multipolar, termasuk dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan pelemahan dominasi dolar AS.
Kesimpulannya, sintesis Imran Hosein–Dugin membingkai geopolitik kontemporer sebagai perjuangan peradaban dan eskatologis, dengan BRICS dipandang sebagai instrumen nyata pembentukan tatanan dunia baru yang lebih multipolar. Namun, pendekatan ini bersifat interpretatif-ideologis dan tidak merepresentasikan posisi resmi negara-negara BRICS maupun konsensus pemikir Islam atau Kristen arus utama.



0 Comments